BOGOR – Ketersediaan air di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, mengalami penurunan cukup signifikan seiring dengan musim kemarau.
Salah satunya Sungai Cimegamendung yang berada di Desa Batulayang. Debit airnya kini menyusut hingga sekitar 80 persen.
Kepala Desa Batulayang, Iwan Setiawan memaparkan, kondisi tersebut telah berlangsung hampir dua bulan. Meski aliran air masih mencapai permukiman warga, volumenya semakin kecil.
“Sejumlah sungai di wilayah mulai mengering, termasuk Sungai Cimegamendung yang debit airnya mengalami penurunan hingga sekitar 80 persen,” ujar Kades Batulayang.
Dia menjelaskan, tiga RT masih sangat mengandalkan aliran Sungai Cimegamendung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dua di antaranya berada di Kampung Batukasur.
Untuk mempertahankan sisa aliran air, Pemerintah Desa Batulayang membangun bronjong di sekitar sungai. Upaya ini dilakukan agar air yang tersisa dapat ditampung dan dimanfaatkan khususnya oleh warga di wilayah hilir.
“Pembuatan bronjong untuk menahan air yang ada di Sungai Cimegamendung supaya tetap bisa dimanfaatkan warga. Memang debitnya kecil, tetapi masih bisa digunakan masyarakat,” katanya.
Iwan Setiawan pun menyoroti kondisi kawasan hulu Sungai Cimegamendung yang berada di Desa Tugu Utara.
Kades Batulayang menduga adanya pengalihan aliran air untuk kebutuhan hotel, tempat wisata, dan vila, sehingga turut memengaruhi debit sungai di wilayah hilir.
Meski kondisi sungai nyaris mengering, Iwan Setiawan memastikan aliran air Sugai Cimegamendung hingga kini masih menjangkau permukiman warga. Namun, debitnya sangat kecil dibandingkan kondisi normal.
“Kalau melihat kondisi di hulu, ada banyak pengalihan air untuk hotel, tempat wisata, dan vila. Hal ini berdampak terhadap debit air yang mengalir ke hilir,” tutupnya. ONE












