BOGOR – Pemerintah Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, berharap dibangunkan satuan pendidikan baru, khususnya jenjang Sekolah Dasar (SD). Sebab di wilayah ini terjadi ketimpangan antara tingginya jumlah warga usia sekolah dengan fasilitas sekolah yang ada.
Kepala Desa Batulayang, Iwan Setiawan mengungkap, selama ini di wilayahnya hanya terdapat satu satuan pendidikan jenjang dasar, yakni SDN Batulayang. Di sisi lain warga usia sekolah sangat tinggi, sehingga setiap tahun ajaran pendidikan baru banyak anak yang tidak tertampung di SDN Batulayang.
Kondisi tersebut memaksa sebagian warga menyekolahkan anaknya ke wilayah lain. Ada yang ke Cisarua, Cibeureum, Tugu Utara, dan desa lain.
“Kalau dikatakan SDN Batulayang over kapasitas memang benar. Saat ini jumlah peserta didik di SDN Batulayang mencapai 815 siswa dengan penyelenggaraan proses belajar dan mengajar dibagi menjadi beberapa shift, bahkan hingga jam 5 sore,” ujarnya.

Iwan Setiawan menjelaskan, setiap tahun sejak 2017 selalu mengajukan agar SDN Batulayang dibangunkan ruang kelas baru. Baik diusulkan melalui musrenbang, reses DPRD, maupun jalur teknokrat. Namun sampai sekarang belum juga ada realisasi.
“Pemdes Batulayang mengajukan agar ditambah tiga unit ruang kelas baru di SDN Batulayang, namun belum juga ada informasi kapan akan direalisasikan,” tandas Kades Batulayang.
Tidak hanya mengajukan penambahan ruang kelas untuk SDN Batulayang, kata Iwan Setiawan melanjutkan, Pemdes Batulayang juga usul agar Pemkab Bogor membangunkan SD negeri baru, mengingat kebutuhannya sangat mendesak.
“Memang kalau untuk pendirian SDN Batulayang 02, kita belum ada untuk lahannya. Mungkin kewenangannya siapa kita kan mengikuti prosedur,” ucap Iwan Setiawan.
Sementara itu, Kepala SDN Batulayang, Sumaryati mengungkap, kondisi antara jumlah peserta didik dengan ruang kelas di sekolahnya sangat tidak ideal. Jumlah siswa SDN Batulayang mencapai 815 anak, dengan jumlah total 22 rombongan belajar.
Sementara ruang kelas atau ruang belajar yang ada hanya 9 unit, sehingga KBM disiasati bergiliran meski diakuinya tidak efektif.
“KBM digelar dari pagi mulai pukul 7 pagi sampai jam 5 sore, sebab dari mulai kelas 1 hingga 6 jumlah rombelnya lebih dari satu. Untuk kelas 1,2,3, dan 4 terdapat 4 rombel dan 3 rombel di kelas 5 dan 6,” terangnya.
Sumaryati menyebut telah mengajukan agar dibangunkan beberapa unit ruang kelas baru. Apalagi sejak tahun 2020 sudah dicor, sehingga tinggal dibangunkan ruang kelas baru.
“Proposal pembangunan ruang kelas baru setiap tahun selalu diajukan, melalui musrenbang desa, musrenbang kecamatan, maupun melalui DPRD Kabupaten Bogor. Tapi sampai saat ini tidak mendapat informasi kapan direalisasi,” katanya.
Sumaryati berharap Pemkab Bogor menempatkan pembangunan ruang kelas baru SDN Batulayang sebagai skala prioritas, karena memang kebutuhannya sangat mendesak. “Mudah-mudahan segera direalisasikan,” harapnya. ONE






